Cerpen Time
Misteri jam 11 malam
“Aaaaa....” teriak
seorang pemuda yang tenggelam di tengah waduk saguling sekitar pukul 11 malam. Saat
itu Utai terbangun dari tidur, mendengar teriakan tidak asing dibelakang rumah,
yaitu waduk saguling yang terkenal.
“Astagfirullah,
siapa lagi ini teh yang tenggelam?” teriak Utai penasaran. Utaipun pergi diam
diam – diam ke dapur rumahnya yang lumayan dekat dengan waduk saguling. Tetapi
saat Utai memeriksanya, tidak ada siapa siapa disana hanya air yang riak, seperti
ada yang melewati air itu.
Keesokkan
harinya sebelum Utai berangkat ke sekolah, abah dan ambu sedang mengobrol, ”Abah, ambu, tadi malam Utai mendengar teriakan lagi di saguling” kata Utai membuka
pembicaraan. ”Jam berapa kejadiannya teh Utai?” sahut ambu. Utaipun menjawab, "Kira kira jam 11." ”Pantas
saja bukannya sudah diumumkan, tidak ada yang boleh datang ke sana, soalnya
setiap jam segitu saguling minta tumbal, memang siapa yang berani datang ke
sana?” sahut abah. Utaipun menjawab “Itu dia, waktu Utai lihat, sudah tidak ada
siapa - siapa hanya air yang riak saja”. Tiba tiba ambu menjawab, ”Ah paling
juga si Asep, kan cuma dia yang tidak percaya.”
Setelah
pembicaraan mereka selesai. Utaipun berangkat sekolah. Diperjalanan, Utai
melihat bendera kuning di depan rumah Asep, ”Punten, ini teh siapa yang
meninggal?” tanya Utai kepada salah satu tentangganya yang melayat. ”Ini
katanya kang Asep, kemarin dia nekad pergi ke saguling terus tenggelam, nah
sampai sekarang belum ketemu." ”Innalillahi wainnailaihi raji’un, oh begitu terimakasih
bu!” jawab Utai. ”Sama sama” Utaipun melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
Di sekolah pun sama, semua orang membicarakan
kang Asep. Tidak terasa pulang sekolah pun tiba. Dengan penuh semangat Utai pulang ke rumah, karena ingin
mengabarkan kabar yang tadi didapat saat hendak berangkat sekolah. Ketika
sampai di rumah. Tok tok tok. ”Assalamu’alaikum” Utai mengetuk pintu. ”Wa’alaikumsallam” jawab ambu. Saat Utai masuk ke rumah, terlihat membawa beberapa kantong kresek
sampah yang hendak di buang. ”Ambu, mau dikemanakan ini sampah teh?” tanya Utai
kepada ambunya. ”Ya dibuang atuh, dikemanakan lagi." ”Oh.. tapi awas ya jangan
dibuang ke saguling!” larang Utai. Ambu pun menjawab dengan heran, “Memangnya
kenapa, kita kan sudah biasa membuang sampah disana?“ "Iya, tapi kalau kita
terus terusan membuang sampah disana, desa kita akan banjir” jawab Utai. ”Ah, dari
dulu juga kamu mah selalu bilang begitu, tapi mana buktinya, sampai sekarang
banjir itu tidak terjadi?” jawab ambu menantang Utai. Mendengar ambu yang
tidak mau kalah, Utai bergumam di dalam hati “Ya sudahlah, lagi pula berdebat
dengan orang tua itu tidak baik.” melihat Utai diam terpaku, ambu menegurnya
“Kenapa kamu diam?”. ”Tidak apa - apa, aku akan mengerjakan PR dulu dikamar. ” jawab
Utai. Utai pun bergegas pergi ke kamarnya.
Dikamar, Utai memikirkan kebiasaan kebiasaan
buruk orang dikampungnya yang suka membuang sampah di waduk. ”Bagaimana bila
kampung ini benar - benar banjir?” bertanya kepada dirinya sendiri “Ah, daripada
saya pusing memikirkan semua ini. Lebih baik saya makan saja." Utai pun makan
siang dengan lahapnya. Saat makan siang, Utai dikejutkan dengan teriakan dari
kamar abah, dan ternyata benar itu abahnya, ”Tolong tolong saya tenggelam!” begitu
teriakan yang terdengar oleh Utai. Utai pun langsung masuk ke kamar abah, ”Abah,
abah, kenapa?” ucap Utai kebingungan. Abah teriak lagi, ”Tolong aku tidak mau
mati sekarang” mendengar teriakan abah yang kedua kalinya, Utai segera
membangunkan abah, “Abah..abah.. bangun, kita tidak kebanjiran. Abah pun
terbangun, sambil berkata, ”Banjir..banjir...” "Disini tidak banjir, abah” jawab
Utai. Ketika mendengar jawaban Utai, abah heran dan berkata “Tapi, tadi itu
banjir rumah kita tenggelam.” Utai mencoba menenangkan abahnya, “Tidak abah, disini
tidak banjir, itu hanya mimpi. ”Abah pun mulai tenang “Rupanya saya cuman mimpi.”
Sejak saat itu, hampir setiap hari, abah
bermimpi seperti itu. Utai pun heran, kenapa abahnya selalu bermimpi hal yang
sama.
Tetapi disamping dia memikirkan abahnya, Utai
juga memikirkan, bagaimana caranya mencegah para penduduk desa agar tidak membuang
sampah sembarangan lagi ke Saguling.
Keesokkan harinya, saat pulang sekolah. Utai
sedang menonton TV, disana ada seorang lelaki berbaju hitam yang berkata “Jaman
sekarang masih adakah yang percaya dengan takhayul? Begitulah suara yang begitu
yakin dari lelaki itu. Saat itu Utai bingung, sebenarnya takhayul itu apa? Lalu
Utai mematikan TV nya, karena hendak makan siang dulu. Kebetulan di ruang makan
sudah ada abah sedang makan dengan lahapnya. Sebelum Utai makan, dia
menyempatkan diri untuk menanyakan apa arti takhayul itu kepada abahnya, ”Abah,
abah tau tidak, apa sih takhayul itu?” tanya Utai “Takhayul itu hal anu teu
masuk kana logika manusia.” jawab abah. ”Oh makasih ya abah.” Setelah Utai tahu
takhayul itu apa, dia langsung memakan makan siangnya.
Malam harinya, saat Utai hendak tidur dia baru
sadar, berarti teori para tetangga tentang “Tidak boleh datang ke Saguling, setelah
jam 11 malam, karena akan dijadikan tumbal” itu takhayul. Utai berkata, “Berarti
mulai sekarang, aku tidak boleh percaya dengan teori itu, tetapi aku tidak
boleh memberitahu abah dan ambu, kalau aku tidak percaya dengan teori itu, karena
teori itu sudak melekat pada diri penduduk desa termasuk abah dan ambu. Oke, kalau begitu, besok malam jam 11 aku akan
pergi ke Saguling.”
Keesokkan harinya jam 11 malam, tanpa
sepengetahuan abah dan ambunya Utai
keluar rumah lewat pintu dapur lalu ke Saguling. Tapi, sebelum dia keluar dari
rumah, dia berkata, ”Apa yang akan terjadi kalau aku kesana, apakah aku akan
mati, tapi aku tidak mau mati sekarang, perjalanan hidupku masih panjang.” Tetapi
keraguan itu seketika hilang, ketika rasa penasaran itu datang lagi pada
dirinya.
Diapun keluar mengendap ngendap dari dapur
rumahnya, karena takut ketahuan abah dan ambunya. Setelah berhasil keluar dari
rumahnya, Utai mendekat ke Waduk Saguling. Tidak terlihat ada yang aneh, bahkan
saat Utai menenggelamkan separuh tubuhnya ke dalam Waduk itu. Tetapi, saat Utai
menunggu apa yang terjadi. Tiba tiba seekor ular besar berwarna hijau datang. Utai
segera melarikan diri dari tempat itu, tetapi kecepatan Utai beranjak masih
terkalahkan dengan ular itu. Ular itu langsung melilit badan Utai, dan anehnya
saat ular itu melilitnya. Utai tidak merasa kesakitan.
Lalu Ular itu membawa Utai ke sebuah tempat
yang penuh dengan sampah, ditempat itu banyak ular besar lain yang sama dengan
ular yang membawanya ke sini. Karena penasaran Utai bertanya kepada ular yang
tadi membawanya ke sini, ”Tempat apa ini, kenapa banyak ular besar dan sampah, lalu
kau kemanakan para penduduk desa yang kau bawa?” Ular itu menjawab, “Tenang
nak, kami tidak akan menyakitimu” Tetapi Utai tetap tidak percaya “Kalau kau
tidak akan menyakitiku, lalu untuk apa kau membawaku ke sini” Ular mencoba
menjelaskan apa maksud dia membawa Utai ke rumahnya, ”Aku membawamu kesini, karena
ingin melindungimu.” Utai tetap tidak mengerti apa maksud ular itu “Apa
maksudmu aku tidak mengerti, melindungiku? Melindungiku dari apa?” Lalu Ular
menjelaskannya, ”Aku adalah seorang raja dan disana adalah istriku, ratu
dikerajaanku. Awalnya kerajaan kami rukun dan damai, semua rakyat bahagia. Tempat
tinggal kami adalah tempat tinggal yang indah, tetapi semua itu seketika
hilang, saat warga didesa yang kau tinggali membuang sampah ke waduk ini. Tempat
tinggal kami tercemar, air jadi kotor, tumbuhan yang tidak lain adalah teman
kami, mati, ikan yang juga teman kami juga mati, dan rakyat kami para ular yang
tidak bersalah sebagian mati dan sebagian pindah ke tempat lain karena tidak tahan dengan keadaan
disini.” Utai tercengang mendengar cerita ular yang malang itu, tetapi dia
masih penasaran mengapa dia mengambil warga didesanya dan tadi kata ular itu, dia
sudah tidak punya rakyat, terus siapa mereka, Utai pun kembali bertanya, ”Lalu
kenapa, setiap jam 10 dan 11 malam kalian selalu mengambil penduduk desa yang
melewati waduk ini?” Ular itu menjawabnya, “Kami akan menghukum orang orang
yang selalu membuang sampah sembarangan, dengan cara mengubah mereka menjadi
ular dan menjadi rakyat kami. Supaya mereka bisa merasakan apa yang kami
rasakan atas perbuatannya sendiri.” “Oh begitu, jadi kalian membawa ku kesini
hanya untuk menjelaskan itu kepadaku? Ya sudah, kan kamu sudah menjelaskan
semuanya jadi lebih baik pulangkan aku!” Tetapi ular itu malah melanjutkan
pembicaraannya, “Tujuanku membawamu ke sini untuk melindungimu.” Utai semakin
marah dan berkata, “Ya, aku tahu kamu ingin melindungiku tapi melindungiku dari
apa dan dari siapa? Dari tadi kau hanya mengulang ngulang kalimat itu.” Ular
menjawab lagi, “Aku ingin melindungimu.” Utai tambah geram “Ya sudah aku pulang
sendiri saja.” tantang Utai, ular itu melarang Utai, “Kau jangan pergi, lagi
pula kau tidak akan bisa kemana mana.”
Tetapi Utai tidak menghiraukan larangan ular, dia
terus berlari kesana kemari mencari jalan keluar, tapi tetap tidak ketemu juga.
Ular berkata lagi “Aku sudah bilang, kau tidak bisa keluar dari sini.”
Di sisi lain, abah dan ambu bingung mencari
Utai yang hilang. Seraya mereka sibuk mencari Utai. Tiba tiba suara gemuruh
terdengar dimana-dimana, hujan turun dengan deras dan terjadilah banjir di desa
tersebut. Seluruh desa dan isinya tenggelam.
TAMAT
Cerita ini hanya fiktif belaka bukan bermaksud menyudutkan siapapun. Jadi tolongg jangan buang sampah sembarangan yaa...
0 komentar:
Posting Komentar