Minggu, 10 Juli 2016

Cerpen Time




Misteri jam 11 malam
“Aaaaa....” teriak seorang pemuda yang tenggelam di tengah waduk saguling sekitar pukul 11 malam. Saat itu Utai terbangun dari tidur, mendengar teriakan tidak asing dibelakang rumah, yaitu waduk saguling yang terkenal.
“Astagfirullah, siapa lagi ini teh yang tenggelam?” teriak Utai penasaran. Utaipun pergi diam diam – diam ke dapur rumahnya yang lumayan dekat dengan waduk saguling. Tetapi saat Utai memeriksanya, tidak ada siapa siapa disana hanya air yang riak, seperti ada yang melewati air itu.
Keesokkan harinya sebelum Utai berangkat ke sekolah, abah dan ambu sedang mengobrol, ”Abah, ambu, tadi malam Utai mendengar teriakan lagi di saguling” kata Utai membuka pembicaraan. ”Jam berapa kejadiannya teh Utai?” sahut  ambu. Utaipun menjawab, "Kira kira jam 11." ”Pantas saja bukannya sudah diumumkan, tidak ada yang boleh datang ke sana, soalnya setiap jam segitu saguling minta tumbal, memang siapa yang berani datang ke sana?” sahut abah. Utaipun menjawab “Itu dia, waktu Utai lihat, sudah tidak ada siapa - siapa hanya air yang riak saja”. Tiba tiba ambu menjawab, ”Ah paling juga si Asep, kan cuma dia yang tidak percaya.”
Setelah pembicaraan mereka selesai. Utaipun berangkat sekolah. Diperjalanan, Utai melihat bendera kuning di depan rumah Asep, ”Punten, ini teh siapa yang meninggal?” tanya Utai kepada salah satu tentangganya yang melayat. ”Ini katanya kang Asep, kemarin dia nekad pergi ke saguling terus tenggelam, nah sampai sekarang belum ketemu." ”Innalillahi wainnailaihi raji’un, oh begitu terimakasih bu!” jawab Utai. ”Sama sama” Utaipun melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
Di sekolah pun sama, semua orang membicarakan kang Asep. Tidak terasa pulang sekolah pun tiba. Dengan penuh semangat  Utai pulang ke rumah, karena ingin mengabarkan kabar yang tadi didapat saat hendak berangkat sekolah. Ketika sampai di rumah. Tok tok tok. ”Assalamu’alaikum” Utai mengetuk pintu. ”Wa’alaikumsallam” jawab ambu. Saat Utai masuk ke rumah, terlihat membawa beberapa kantong kresek sampah yang hendak di buang. ”Ambu, mau dikemanakan ini sampah teh?” tanya Utai kepada ambunya. ”Ya dibuang atuh, dikemanakan lagi." ”Oh.. tapi awas ya jangan dibuang ke saguling!” larang Utai. Ambu pun menjawab dengan heran, “Memangnya kenapa, kita kan sudah biasa membuang sampah disana?“ "Iya, tapi kalau kita terus terusan membuang sampah disana, desa kita akan banjir” jawab Utai. ”Ah, dari dulu juga kamu mah selalu bilang begitu, tapi mana buktinya, sampai sekarang banjir itu tidak terjadi?” jawab ambu menantang Utai. Mendengar ambu yang tidak mau kalah, Utai bergumam di dalam hati “Ya sudahlah, lagi pula berdebat dengan orang tua itu tidak baik.” melihat Utai diam terpaku, ambu menegurnya “Kenapa kamu diam?”. ”Tidak apa - apa, aku akan mengerjakan PR dulu dikamar. ” jawab Utai. Utai pun bergegas pergi ke kamarnya.
Dikamar, Utai memikirkan kebiasaan kebiasaan buruk orang dikampungnya yang suka membuang sampah di waduk. ”Bagaimana bila kampung ini benar - benar banjir?” bertanya kepada dirinya sendiri “Ah, daripada saya pusing memikirkan semua ini. Lebih baik saya makan saja." Utai pun makan siang dengan lahapnya. Saat makan siang, Utai dikejutkan dengan teriakan dari kamar abah, dan ternyata benar itu abahnya, ”Tolong tolong saya tenggelam!” begitu teriakan yang terdengar oleh Utai. Utai pun langsung masuk ke kamar abah, ”Abah, abah, kenapa?” ucap Utai kebingungan. Abah teriak lagi, ”Tolong aku tidak mau mati sekarang” mendengar teriakan abah yang kedua kalinya, Utai segera membangunkan abah, “Abah..abah.. bangun, kita tidak kebanjiran. Abah pun terbangun, sambil berkata, ”Banjir..banjir...” "Disini tidak banjir, abah” jawab Utai. Ketika mendengar jawaban Utai, abah heran dan berkata “Tapi, tadi itu banjir rumah kita tenggelam.” Utai mencoba menenangkan abahnya, “Tidak abah, disini tidak banjir, itu hanya mimpi. ”Abah pun mulai tenang “Rupanya saya cuman mimpi.”
Sejak saat itu, hampir setiap hari, abah bermimpi seperti itu. Utai pun heran, kenapa abahnya selalu bermimpi hal yang sama.
Tetapi disamping dia memikirkan abahnya, Utai juga memikirkan, bagaimana caranya mencegah para penduduk desa agar tidak membuang sampah sembarangan lagi ke Saguling.
Keesokkan harinya, saat pulang sekolah. Utai sedang menonton TV, disana ada seorang lelaki berbaju hitam yang berkata “Jaman sekarang masih adakah yang percaya dengan takhayul? Begitulah suara yang begitu yakin dari lelaki itu. Saat itu Utai bingung, sebenarnya takhayul itu apa? Lalu Utai mematikan TV nya, karena hendak makan siang dulu. Kebetulan di ruang makan sudah ada abah sedang makan dengan lahapnya. Sebelum Utai makan, dia menyempatkan diri untuk menanyakan apa arti takhayul itu kepada abahnya, ”Abah, abah tau tidak, apa sih takhayul itu?” tanya Utai “Takhayul itu hal anu teu masuk kana logika manusia.” jawab abah. ”Oh makasih ya abah.” Setelah Utai tahu takhayul itu apa, dia langsung memakan makan siangnya.
Malam harinya, saat Utai hendak tidur dia baru sadar, berarti teori para tetangga tentang “Tidak boleh datang ke Saguling, setelah jam 11 malam, karena akan dijadikan tumbal” itu takhayul. Utai berkata, “Berarti mulai sekarang, aku tidak boleh percaya dengan teori itu, tetapi aku tidak boleh memberitahu abah dan ambu, kalau aku tidak percaya dengan teori itu, karena teori itu sudak melekat pada diri penduduk desa termasuk abah dan ambu. Oke,  kalau begitu, besok malam jam 11 aku akan pergi ke Saguling.”
Keesokkan harinya jam 11 malam, tanpa sepengetahuan  abah dan ambunya Utai keluar rumah lewat pintu dapur lalu ke Saguling. Tapi, sebelum dia keluar dari rumah, dia berkata, ”Apa yang akan terjadi kalau aku kesana, apakah aku akan mati, tapi aku tidak mau mati sekarang, perjalanan hidupku masih panjang.” Tetapi keraguan itu seketika hilang, ketika rasa penasaran itu datang lagi pada dirinya.
Diapun keluar mengendap ngendap dari dapur rumahnya, karena takut ketahuan abah dan ambunya. Setelah berhasil keluar dari rumahnya, Utai mendekat ke Waduk Saguling. Tidak terlihat ada yang aneh, bahkan saat Utai menenggelamkan separuh tubuhnya ke dalam Waduk itu. Tetapi, saat Utai menunggu apa yang terjadi. Tiba tiba seekor ular besar berwarna hijau datang. Utai segera melarikan diri dari tempat itu, tetapi kecepatan Utai beranjak masih terkalahkan dengan ular itu. Ular itu langsung melilit badan Utai, dan anehnya saat ular itu melilitnya. Utai tidak merasa kesakitan.
Lalu Ular itu membawa Utai ke sebuah tempat yang penuh dengan sampah, ditempat itu banyak ular besar lain yang sama dengan ular yang membawanya ke sini. Karena penasaran Utai bertanya kepada ular yang tadi membawanya ke sini, ”Tempat apa ini, kenapa banyak ular besar dan sampah, lalu kau kemanakan para penduduk desa yang kau bawa?” Ular itu menjawab, “Tenang nak, kami tidak akan menyakitimu” Tetapi Utai tetap tidak percaya “Kalau kau tidak akan menyakitiku, lalu untuk apa kau membawaku ke sini” Ular mencoba menjelaskan apa maksud dia membawa Utai ke rumahnya, ”Aku membawamu kesini, karena ingin melindungimu.” Utai tetap tidak mengerti apa maksud ular itu “Apa maksudmu aku tidak mengerti, melindungiku? Melindungiku dari apa?” Lalu Ular menjelaskannya, ”Aku adalah seorang raja dan disana adalah istriku, ratu dikerajaanku. Awalnya kerajaan kami rukun dan damai, semua rakyat bahagia. Tempat tinggal kami adalah tempat tinggal yang indah, tetapi semua itu seketika hilang, saat warga didesa yang kau tinggali membuang sampah ke waduk ini. Tempat tinggal kami tercemar, air jadi kotor, tumbuhan yang tidak lain adalah teman kami, mati, ikan yang juga teman kami juga mati, dan rakyat kami para ular yang tidak bersalah sebagian mati dan sebagian pindah ke tempat  lain karena tidak tahan dengan keadaan disini.” Utai tercengang mendengar cerita ular yang malang itu, tetapi dia masih penasaran mengapa dia mengambil warga didesanya dan tadi kata ular itu, dia sudah tidak punya rakyat, terus siapa mereka, Utai pun kembali bertanya, ”Lalu kenapa, setiap jam 10 dan 11 malam  kalian selalu mengambil penduduk desa yang melewati waduk ini?” Ular itu menjawabnya, “Kami akan menghukum orang orang yang selalu membuang sampah sembarangan, dengan cara mengubah mereka menjadi ular dan menjadi rakyat kami. Supaya mereka bisa merasakan apa yang kami rasakan atas perbuatannya sendiri.” “Oh begitu, jadi kalian membawa ku kesini hanya untuk menjelaskan itu kepadaku? Ya sudah, kan kamu sudah menjelaskan semuanya jadi lebih baik pulangkan aku!” Tetapi ular itu malah melanjutkan pembicaraannya, “Tujuanku membawamu ke sini untuk melindungimu.” Utai semakin marah dan berkata, “Ya, aku tahu kamu ingin melindungiku tapi melindungiku dari apa dan dari siapa? Dari tadi kau hanya mengulang ngulang kalimat itu.” Ular menjawab lagi, “Aku ingin melindungimu.” Utai tambah geram “Ya sudah aku pulang sendiri saja.” tantang Utai, ular itu melarang Utai, “Kau jangan pergi, lagi pula kau tidak akan bisa kemana mana.”
Tetapi Utai tidak menghiraukan larangan ular, dia terus berlari kesana kemari mencari jalan keluar, tapi tetap tidak ketemu juga. Ular berkata lagi “Aku sudah bilang, kau tidak bisa keluar dari sini.”
Di sisi lain, abah dan ambu bingung mencari Utai yang hilang. Seraya mereka sibuk mencari Utai. Tiba tiba suara gemuruh terdengar dimana-dimana, hujan turun dengan deras dan terjadilah banjir di desa tersebut. Seluruh desa dan isinya tenggelam.

TAMAT



Cerita ini hanya fiktif belaka bukan bermaksud menyudutkan siapapun. Jadi tolongg jangan buang sampah sembarangan yaa...

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar